Sewajarnya Engkaulah
Berteduh di pinggir pelabuhan resah
kekadang alpa dibuai mimpi gundah
kekadang menyepi didodoi lagu pasrah
termangu menunggu dengan mata berkaca
bilakah anak-anak kapal kan tiba
ke pesisir pantai putih
membawa khabar bersih.
Terngiang-ngiang jeritan sayup sang juragan
tentang semboyan rakyat musim kini
tentang genderang perang di samudera ilmu
berangkat kita dengan geraklangkah pejuang
kembali kita dengan derap kemenangan
Mari kita lestarikan di benak di jiwa
mencorak perhitungan dengan akal bijak
mari kita lagukan citra kembara dengan jiwa luhur
mari kita layarkan bahtera dengan keringat mencurah,
di jalur panji prestasi kita ini masih menjauh
puaskah dengan apa yang sedang berlabuh?
(ii)
Seperti di medan perang di tengah samudera itu
segalanya bersatu dalam tekad dan hasrat
semuanya termatri oleh visi dan misi
mencipta menang cemerlang
mendukung piagam pelabuhan yang dilakarkan
dengan horizon kesetiaan dan kepatuhan
juragan pemutus perintah bicara
malim pendukung aspirasi perkasa
kelasi pengibar panji cita-cita,
siapalah juragan jika semboyan tak terendah
siapalah malim jika tingkah tak berpaut perintah
siapalah kelasi jika setianya bermadah helah.
(iii)
Benarlah seperti kata yaiku
belajar itu berjuang melangir rona hitam masadepan
guru itu digugu dan ditiru kerana taatsetia jujur ikhlasnya
sekolah itu ruang mentafsir ilmu kasih sejati
medan juang anak-anak hingusan belajar mendidik diri
jadi insan berketrampilan berwawasan
berlembut hati berjiwa pemenang
dengan guru bijaksana
pembimbing pencanang genderang perang
pembunuh sikap-semangat terjajah takmahu bersusah
pemusnah virus kecundang
dipahat menjadi sejarah.
(iv)
Aduhai guruku
jika benar engkau adalah guruku
sewajarnya engkaulah
nakhoda berjiwa kesatria pengikut arah berencana
bukan lagi parasit penyebar tulah dan air mata,
utamakanlah yang utama
demi didakapanmu anak didik merungkai gundah
mencipta sejarah.
Yang dituntut adalah
kesungguhan merencana mengatur melaksana
bukan buat yang kita suka
yang dituntut adalah
integriti bukan kepentingan diri
akauntabiliti bukan angan-angan sendiri.
Belajarlah jadi peranti hebat pendukung setia berakalbudi
belajarlah jadi pengungsi waktu
tak tertunda meski sedetik cuma
usah terpesona dek rasahati dan dendam mengunci diri
usah terkesima oleh ilmu nan tinggi tak terolah tercurah
usah lagi membuang masa mencipta wasangka
kerana gerakmasa sering melirik sinis
oleh jalur tingkahmu menongkah ikrar sendiri.
- Seorang Aku
p/s : Puisi ini olahan semula. Versi asal pernah dideklamasikan Pn Ramlah Talib sewaktu Program Perkembangan Staf di Hotel Selesa PG suatu waktu dulu.

